Maka sebuah perjalanan panjangpun aku mulai dengan "Bismillah.. " dan "Nawaitu.. " , apapun yang terjadi, maka terjadilah...Perjalanan yang diawali dari sebuah buku "Atlas Walisongo" yang mengungkap sejarah panjang tentang penyebaran Islam pertama di tanah Jawa dan Nusantara, menjadi sebuah ide untuk melihat dari sudut yang berbeda melalui kacamata pariwisata tentang Islam dan Budaya Nusantara memakai Sepeda...
"Sepeda"... Iya sepeda, aku juga heran.. Karena bukan mainanku dan caraku, karena aku bukan atlet pesepeda ataupun penghobi gila sepeda, lagipula usia sudah hampir 'bau tanah'.
Tapi inilah keasikannya, dimana aku harus melintasi jawa, bali, lombok, nusatenggara, hingga sulawesi, bahkan sumatera atau papua sekalipun untuk menelusuri jejak-jejak Walisongo, dan tentu saja merekam semua jejak pariwisata nusantara.
Setidaknya sesuatu yang tidak mungkin, akan menjadi mungkin jika Sang Maha Asyik meridhloinya...Seperti halnya Gunung Parang, yang tadinya hanya sebongkah batu andesit hitam, dan tidak terjamah pariwisata, kini mampu berkembang dengan dunia petualangannya sendiri...
Dan mampu sejajar dengan wisata Asia Tenggara lainnya, meski kita sendiri malu untuk mengakui...
Bukankah asik jika hidup bisa memberikan kehidupan untuk yang lain, dan setidaknya ketika mati masih memberikan manfaat, bukan numpuk dosa melulu...capek ah!
Jadi mari bersepeda keliling Indonesia!
Terimakasih buat sahabat Irawan Reza untuk hadiahnya sebuah sepeda yang akan aku siksa sampai patah...
Dan Daniel Layarda yang banyak membantu semangat...
Serta Sang Rasa yang sudah memotivasi dengan balsem "geliga"...
Dan Gunung Parang!
Jumat 25 May 2018